Senin, 29 April 2013

Dua SPG Rokok Ini Menangis di Makam Uje

Dua SPG Rokok Ini Menangis di Makam Uje
DWI RISKY Agnes (23) dan Dea (23), SPG rokok merek tertentu yang bertemu Ustaz Jeffry Al Buchori di sebuah kafe di Kemang, berziarah ke makam Uje di TPU Karet Bivak, Senin (29/4/2013).

JAKARTA,  Perasaan kaget sekaligus tidak percaya diungkapkan Agnes (23) dan Dea (23) saat mendengar kabar bahwa Ustadz Jeffri Al Buchori telah meninggal dunia. Diceritakannya, pertemuan pertama dan terakhir kalinya dengan sang ustadz ialah pada hari Kamis (25/4/2013) malam sekitar pukul 23.00 WIB di kafe daerah Kemang, Jakarta Selatan, yang membuatnya semakin kagum dan cinta akan sosok kerendahan hati "ustadz gaul" itu.

"Pertemuan kami waktu itu sangat singkat, awalnya saya tidak sadar kalau orang yang membeli rokok dan mempersilakan kami masuk setelah diusir satpam ke dalam kafe adalah sang ustadz. Tapi begitu saya dengar suaranya yang khas, saat beliau membagikan rokok kepada para satpam yang berjaga, baru saya tersadar kalau beliau itu adalah Ustadz Jeffry Al Buchori," ceritanya sambil terisak di samping makam Uje di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/4/2013) siang.

Diungkapkannya, dirinya dan Dea yang langsung saling menelepon ketika mengetahui kabar yang menimpa Uje pada pagi harinya sempat diberikan pesan singkat dan motivasi saat Uje membayar satu slof rokok yang dibelinya pada malam itu. Disebutkan Agnes, isi pesan yang disebutkan Uje itu adalah harapan dan permintaan kepadanya untuk mendoakan Uje agar selamat dunia dan akhirat.

"Beliau berpesan singkat, tolong doakan saya agar selamat dunia dan akhirat. Waktu itu saya hanya mengiyakan saja dan tidak berpikir tentang hal apa pun," ujarnya.

Tak hanya itu, Uje juga memuji apa yang dilakukan Agnes dan Dea sebagai SPG. "Beliau berkata kalau kami berdua adalah orang baik karena menurut beliau, sampai larut malam masih bekerja mencari rezeki. Sebab, kata Uje, rezeki itu tidak ada yang tahu, kecuali Allah yang tahu," kata Agnes lagi sembari menirukan ucapan dan gerak tubuh Uje di malam pertemuan yang berkesan itu.

Dibalut kerudung tipis bermotif batik warna coklat dan mengenakan baju hitam lengan panjang, keduanya tidak berhenti menangis sampai tiba waktunya menyebarkan bunga dan menyiram air mawar di atas pusara tempat Uje dikebumikan. Baik Agnes maupun Dea tak henti menangis di pusara Uje.

"Semoga doa saya untuk Uje di malam itu agar benar-benar dikabulkan oleh Allah dan saya sangat kagum sekali kepada Uje karena beliau adalah salah satu orang yang paling rendah hati yang baru saya temui," kata Agnes lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar