Sabtu, 31 Agustus 2013

Ini Dia Isyarat Kaki Tentang Kesehatan Anda?



Kaki adalah bagian tubuh paling bawah. Meski terbawah, bukan berarti kondisi kaki bisa diabaikan. Karena faktanya, keadaan kaki dapat menggambarkan kondisi tubuh secara keseluruhan.


Berikut ini, adalah beberapa kondisi kaki yang dapat menjadi petunjuk adanya gangguan kesehatan :

1. Kaki selalu terasa dingin

Kaki yang selalu dingin disebabkan buruknya peredaran darah yang sering dikaitan dengan merokok, tingginya tekanan darah, dan penyakit jantung. Kerusakan saraf akibat diabetes yang tidak terkontrol juga bisa menyebabkan kaki terasa dingin. Penyebab lainny adalah hipotiroidisme dan anemia.

2. Sensasi kaki seperti terbakar
Sensasi terbakar merupakan hal yang umum terjadi pada penderita diabetes, dengan kerusakan saraf tepi. Kondisi ini juga bisa diakibatkan kekurangan vitamin B,  athlete's food, penyakit ginjal kronis, buruknya sirkulasi darah di kaki (peripheral arterial disesase), dan hipotroidisme.

3. Sakit pada kaki
Bila kaki terasa sakit setelah beraktivitas seharian, perhatikanlah kondisi sepatu. Sebanyak 8 dari 10 wanita mengatakan, sepatu tertentu menyakiti kaki mereka. Namun sakit yang tidak dikarenakan sepatu bertumit tinggi, mungkin diakibatkan pecahan kecil di tulang. Penyebabnya adalah latihan yang terlalu berat, seperti basket atau lari jarak jauh. lemahanya tulang karena ostoporosis juga meningkatkan risiko ini.

4. Kejang kaki
Rasa sakit tiba-tiba pada kaki adalah tanda kejang otot, yang bisa terjadi beberapa menit. Penyebab utamanya adalah kelebihan kerja dan kelemahan otot. Penyebab lain adalah buruknya sirkulasi, dehidrasi, atau ketidakseimbangan potassium, magnesium, kalsium, atau vitamin D dalam tubuh. Perubahan hormon saat hamil atau gangguan tiroid, juga berperan.

5. Kaki bengkak
Bengkak merupakan gangguan temporer yang disebabkan berdiri atau penerbangan yang terlalu lama. Namun kaki yang bengkak dalam waktu lama merupakan tanda adanya masalah pada pembekuan darah dan sistem limfatik. Gangguan ginjal dan tiroid yang kurang aktif, juga bisa menjadi penyebab bengkak.

6. Jari kaki kemerahan, putih, dan biru
Penyakit Raynaud bisa menyebabkan jari kaki berwarna putih, kebiruan, kemerahan dan kembali ke warna asal. Penyebabnya adalah penyempitan arteri, yang disebut vasopasma. Stres atau perubahan suhu dapat menyebabkan vasopasma, yang biasanya tidak memicu penyakit lain. Penyakit Raynaud juga berhubungan dengan radang sendi, penyakit Sjogren, dan gangguan tiroid.

7. Sakit pada tumit
Penyebab utama sakit pada tumit adalah plantar fasciitis, yaitu perdangan pada ligamen panjang yang melekat pada tulang tumit. Rasa sakit akan lebih terasa ketika bangun tidur dan terjadi tekanan di kaki. Radang sendi, latihan berlebihan, dan sepatu yang tidak cocok menyebabkan sakit pada tumit, misalnya tendonitis. Penyebab lainnya adalah infeksi tulang, tumor, atau tulang pecah.

8. Cara jalan diseret
Penyebab perubahan cara jalan adalah kehilangan kemampuan merasakan sensasi pada kaki, yang diakibatkan kerusakan saraf tepi. Kerusakan saraf diakibatkan infeksi, kekurangan vitamin, dan kelebihan alkohol.

9. Rasa gatal
Rasa gatal dan kapalan, merupakan infeksi jamur yang umum terjadi pada pria berusia 20-40 tahun. Reaksi pada zat kimia atau produk perawatan kulit tertentu, bisa menyebabkan gatal, disertai kemerahan dan kering.

10. Luka yang tak kunjung sembuh
Luka pada kaki yang tak kunjung sembuh, merupakan tanda utama diabetes. Penyembuhan yang lama juga merupakan tanda buruknya sirkulasi akibat penyakit seperti peripheral artery disesase.

Aktif dalam Kegiatan Sosial Bikin Panjang Umur

Anak-anak pasien kanker berkumpul di ruang belajar di Rumah Kita.

Hidup terasa lebih bermakna jika kita bisa membantu orang-orang yang kurang beruntung. Menjadi relawan dalam berbagai kegiatan sosial juga diketahui bisa membuat kita lebih panjang umur.

Ada banyak kegiatan sosial yang bisa kita lakukan, misalnya saja membacakan buku bagi orang tuna netra, menemani aktivitas anak-anak penderita kanker di rumah sakit, mengajar anak jalanan, dan masih banyak lagi.

Sebuah analisa terhadap efek kesehatan dari kegiatan sosial tersebut menyebutkan, para relawan sosial memiliki angka kematian lebih rendah 22 persen dibandingkan dengan orang yang tidak terlibat dalam kegiatan sosial.

Analisa yang dilakukan terhadap 40 studi tersebut juga mengungkapkan bahwa para relawan pada umumnya memiliki risiko depresi lebih rendah. Mereka juga lebih puas terhadap hidupnya. Melakukan hal-hal baik tampaknya membuat para relawan merasa hidupnya baik.

Meski begitu, manfaat positif dari kegiatan sosial tadi ternyata baru dirasakan setelah kita melakukannya secara rutin. Jadi jika Anda hanya baru satu atau dua kali terlibat dalam kegiatan sosial, mungkin efeknya bagi kepuasan batin belum begitu terasa.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr.Suzanne Richards dari University of Exeter Medical School di Inggris itu, ia meneliti para relawan yang secara teratur meluangkan waktunya untuk kegiatan sosial.

Richards menjelaskan, aktif dalam kegiatan sosial akan meningkatkan frekuensi kontak dengan orang lain, mengurangi rasa kesepian, serta membuat kita merasa dibutuhkan sehingga hidup terasa bermakna.

Namun sebaliknya, orang-orang yang egois ternyata juga berdampak positif. Sebelumnya sebuah studi menyebutkan orang yang mengorbankan waktunya untuk merawat anggota keluarganya ternyata kurang sehat baik secara emosional dan fisik.

"Mungkin ada batas halus antara menjadi relawan yang bisa mendatangkan manfaat positif bagi kepuasan hidup dengan meluangkan waktu terlalu banyak sehingga menjadi sebuah komitmen," kata peneliti.

Tim peneliti mencatat, jika kegiatan merawat orang lain menjadi ganjalan karena dilakukan secara terpaksa, lama kelamaan akan menimbulkan stres.

Benarkah Anak yang Memiliki Saudara Tiri Cenderung Bermasalah?



Apa pun alasannya, perceraian dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak. Terlebih jika salah satu orangtuanya menikah lagi dan si anak memiliki saudara tiri.

Sebuah studi terbaru menyebutkan, anak-anak korban perceraian yang memiliki saudara tiri lebih rentan mengalami penyalahgunaan obat terlarang dan juga melakukan seks pranikah di usia remaja.

"Hal ini memang bukan sesuatu yang baru. Tetapi kebanyakan terjadi pada orang yang memiliki anak di luar pernikahan," kata Karen Guzzo profesor bidang perkembangan manusia dan keluarga yang melakukan riset ini.

Dalam penelitiannya, Guzzo dan timnya secara spesifik melihat pengaruh psikologis pada ibu dan anak pertamanya , terutama anak yang diasuh oleh ibu kandungnya pada sebagian besar hidupnya.

Faktor yang dilihat antara lain latar belakang pendidikan, susunan keluarga, dan status ekonomi keluarga. Faktor lainnya meliputi jumlah anggota keluarga dan ada tidaknya perceraian dan saudara tiri dalam kelaurga.

Wawancara dilakukan terhadap 9000 anak yang lahir antara tahun 1980 - 1984. Data anak-anak itu diperoleh dari National Longitudinal Study of Youth.

Para peneliti menemukan, anak-anak yang hidup dengan saudara tiri 65 persen lebih mungkin menggunakan narkoba sebelum mereka menginjak usia 15 tahun. Anak-anak ini juga lebih beresiko melakukan seks pranikah.

Penelitian lain juga menunjukkan dampak negatif perceraian pada diri anak. Menurut American Psychological Association, anak yang orangtuanya bercerai kebanyakan memiliki prestasi akademik yang rendah, lebih sering merokok dan minum alkohol, menjadi pengangguran, dan secara finansial tidak mapan.

Tetapi, perlu ditegaskan pula bahwa dampak psikologis tersebut sangat bergantung pada banyak faktor, termasuk gaya pengasuhan dalam keluarga, kemapanan ekonomi, serta usia anak saat perceraian terjadi.

Para ahli juga mengatakan anak-anak berusia kurang dari 7 tahun yang orangtuanya bercerai, belum memahami dampak dari perpisahan ayah-ibunya.