Rabu, 25 Juli 2012

Kelainan! Cewe Ini Doyan Berhubungan Intim Saat Tidur Pulas

Berhubungan seks seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan dalam berumah tangga, tapi hal itu tidak terhadi dengan Chelsea Harold. Pasalnya, ia tidak pernah bisa mengingat bagaimana asyiknya berhubungan intim karena hal itu dia lakukan saat tertidur pulas. Wah!

Gadis yang kini berusia 24 tahun ini rupanya mengidap seksomnia. Sebuah kelainan yang memungkinkan seseorang melakukan aktivitas seksual sambil tidur. Walau Chelsea melakukannya dengan mata terbuka, ia sama sekali tidak akan mengingat apa-apa ketika bangun di pagi hari.

Meski baru menyadari kondisinya sejak tahun 2007, Harold mungkin sudah mengalami kelainan itu sejak masa pubertas. Kondisi ini diyakini terkait dengan gangguan tidur yang ia alami sejak kecil, yakni berjalan saat sedang pulas.

Sejak 2003, seksomnia dianggap sebagai salah satu gangguan pola tidur. "Begitu lelap tidur, saya bisa berubah seperti pecandu seks yang sangat bergairah, tapi saya benar-benar tidak ingat apa-apa pagi harinya," ungkap gadis yang berasal dari Carnon Downs, Cornwall, Inggris, dikutip The Sun.

Bahkan saat tak ada pasangan di sampingnya, ia akan melakukan rangsangan seksual terhadap dirinya sendiri, atau dengan kata lain melakukan masturbasi. "Sangat menakutkan menyadari bahwa saya tidak bisa mengendalikan tubuh saya sendiri pada malam hari."

Semua aktivitas yang ia lakukan ketika tidur tak ada yang terekam di memori otaknya. Namun, dokter mengatakan bahwa kondisinya dipengaruhi tingkat stres. Semakin buruk kondisi psikologisnya, ia pun semakin kerap mengalami episode seksomnia di malam hari.


Chelsea Harolds harus 5 kali putus dari pacar akibat kelainan yang dialami.

Agar sembuh, Chelsea kini memutuskan menjalani hipnoterapi dan konseling. Ia juga bergabung dengan forum penderita seksomnia dari seluruh dunia untuk sekadar berbagi dan saling menyemangati.

"Saya mencoba mengontrol tingkat stres. Saya mengambil kelas yoga dan setiap merasa khawatir tentang sesuatu, saya membicarakannya dalam konseling," ujarnya. "Saya berharap suatu hari nanti dapat menikmati kehidupan seks sebagai seorang wanita normal."

Kepercayaan dirinya pun perlahan meningkat. Meski tidak akan pernah bisa memiliki kontrol penuh saat tidur, ia hanya berusaha bahagia saat terjaga.

(as/opnsrc)

Rahasia Tersembunyi Di balik Kemeja Kotak-kotak Jokowi-Ahok

Meski belum resmi diumumkan, namun dari berbagai hasil quick count menunjukkan jika pasangan Jokowi-Ahok merajai perolehan suara Pemilukada DKI Jakarta yang baru saja dilakukan tanggal 11 Juli 2012 lalu.

Ada banyak faktor yang menyebabkan kesuksesan keduanya merebut suara dari masyarakat, salah satu yang mungkin akan selalu diingat adalah baju kotak-kotak yang menjadi ciri khas keduanya. Lalu bagaimanakah sebenarnya baju itu bertransformasi menjadi simbol yang sangat populer?

Seperti yang kita telah ketahui,  konsep kemeja kotak-kotak sangat identik dengan pasangan Jokowi dan Ahok saat Pemilukada DKI tahun ini. Keduanya pertama kali memperkenalkan konsep tersebut saat pendaftaran cagub/cawagub ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Ide menggunakan konsep itu sendiri muncul tanpa ada dorongan perencanaan tertentu. Mereka mengenakan kemeja kotak-kotak merah hanya agar bisa lebih ''terlihat'' dibandingkan pasangan lainnya. Hal itu diakui sendiri oleh Ahok. "Tujuan pertama saat datang ke KPUD itu mengenakan pakaian yang ngejreng. Pasti orang-orang datang pakai jas atau baju putihlah," katanya seperti yang dilansir Tempo.

Alasan kedua pemilihan kotak-kotak merah ternyata lebih berbau filosofis. Warna merah menyatakan kesiapan keduanya untuk berkompetisi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. "Alasan kedua, ya kami siap untuk berlomba dalam pemilihan gubernur," lanjutnya.

Yang menarik, selain memang adanya struktur perencanaan marketing dan manejemen promosi yang baik ke berbagai media. Ketenaran konsep ini, diakui atau tidak, benar-benar diluar dugaan. Setidaknya kini muncul stigma baru di kalangan masyarakat yang mengatakan bahwa pakaian kotak-kotak 'mengkotakkan' diri mereka sebagai penggemar Jokowi. Lebih jauh lagi, trend kemeja kotak-kotak sudah menjadi identitas fashion baru.  



Jokowi saat mempromosikan kemeja kotak-kotak.

Makanya tidak heran jika Ahok pun sempat mengakui kaget karena pencitraan Jokowi-Ahok yang terbangun melalui kemeja kotak-kotak berhasil. Padahal, menurut Ahok, kemeja kotak-kotak memang sudah ngetren jauh sebelum Jokowi menggunakan kemeja kotak-kotak.

Terlepas dari peran tim sukses yang berhasil mempopulerkan konsep kotak-kotak itu melalui berbagai media. Ada beberapa yang mengatakan baju tersebut bukan sembarang baju. Setidaknya menurut paranormal kondang Ki Joko Bodo, baju tersebut menyimpan aura khusus untuk menarik empati dan simpati dari warga Jakarta. Dengan kata lain, baju tersebut merupakan baju 'pengasihan' yang dibumbui oleh mantra-mantra khusus.

Walau demikian, entah memang benar atau tidak, setidaknya kotak-kotak ini memberikan dinamika yang baru dalam ranah perpolitikan ke arah yang lebih dinamis. Di mana rakyat memang butuh tokoh yang bisa menyentuh sisi ideologis.



Seorang penjaja kemeja kotak-kotak mengaku dagangannya laris manis.  

Ya, pada awalnya, merayu rakyat memang cukup hanya sekadar membagi sembako, menyebar amplop, atau menggelar pengobatan gratis. Tetapi cara-cara seperti ini mulai tak menghibur lagi. Pemberian praktis, ternyata tidak sekuat pemberian ideologis.

Mengutip dari situs rimanews, ada sebuah anggapan yang cukup bijak yang bisa dijadikan pijakan, bahwa kelaparan perut memang sejenak bisa dihibur dengan pemberian praktis. Tetapi kelaparan nilai adalah lapar yang sesungguhnya.


Ramang, Legenda si 'Macan Bola' Yang Terlupakan

Dunia perfilm-an Indonesia kembali melirik tema sepakbola. Namun berbeda dari sebelumnya yang mengusung tema umum, kini tema yang diambil lebih spesifik, yakni mengenai pesepakbola legendaris asli dalam negeri bernama Ramang.

Rencana tersebut diprakarsai oleh seorang produser bernama Lina Husaini asal Makassar saat bertemu dengan penulis buku 'Ramang Macan Bola', M. Dahlan Abubakar di  di Kantor KONI Sulawesi Selatan, di Makassar, Rabu (11/07/2012). Lalu siapakah sebenarnya sosok Ramang ini sehingga benar-benar dianggap spesial?

Mendengar nama Ramang, mungkin sebagian dari Anda yang hidup di masa kini akan bertanya-tanya, siapakah sosok yang satu ini. Namun jika Anda bertanya kepada komunitas penggemar sepakbola, nama Ramang tentu dianggap legenda.

Bernama asli Andi Ramang, pria kelahiran Makassar 24 April 1928 ini sangat lekat di hati para pencinta sepakbola di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan. Menurut catatan Wiki, ia dikenal dikenal sebagai salah satu anggota trio maut PSM Makassar. Bersama Suwardi dan Noorsalam menjadi jangkar yang kokoh bagi tim berjulukan Juku Eja ini.

Ramang memang sudah mulai menendang-nendang buah jeruk, gulungan kain dan bola anyaman rotan dalam permainan sepak raga sejak berusia 10 tahun. Ayahnya, Nyo'lo, ajudan Raja Gowa Djondjong Karaenta Lemamparang, sudah lama dikenal sebagai jagoan sepakraga.

Ia mulai memperkuat PSM Makassar pada tahun 1947, waktu itu masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB). Bersama dengan Suwardi dan Noorsalam, Ramang menjadi trio paling menakutkan di Indonesia. Ia dikenal memiliki kecepatan lari dan tendangan yang keras.

Karir Ramang makin mencolok tatkala dirinya bergabung ke timnas sepakbola Indonesia. Pada tahun 1952 ia menggantikan Sunardi, kakak Suardi Arlan mengikuti latihan di Jakarta. Ini menyeretnya menjadi pemain utama PSSI. Didampingi Suardi Arlan di kanan dan Nursalam di kiri, ia bagai kuda kepang di tengah gelanggang. Permainannya sebagai penyerang tengah sangat mengagumkan. Maka setahun kemudian ia keliling di beberapa negeri asing. Namanya meroket menjadi pemain favorit penonton dan disegani pemain lawan.



Penyerang internasional paling disegani asal Indonesia, tahun 1950-an.


Pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, Muangthai, Malaysia) PSSI hampir menyapu seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Berkat prestasi Ramang, Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan bola di Asia. Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Mulai dari Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara (salah satu kiper terbaik dunia waktu itu), klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Jashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein.


Kisahnya telah diabadikan ke dalam buku.

"Tapi itu bukan prestasi saya saja, melainkan kerjasama dengan kawan-kawan," ujar Ramang merendah, sembari menyebut nama temannya satu per satu, mulai dari Maulwi Saelan, Rasjid, Chaeruddin, Ramlan, Sidhi, Tan Liong Houw, Aang Witarsa, Thio Him Tjiang, Danu, Phoa Sian Liong dan Djamiat.

Mendengar kehebatan Ramang di lapangan sepak bola, tak heran jika pada tahun 50-an, banyak bayi lelaki yang lahir kemudian diberi nama Ramang oleh orangtuanya. Ramang wafat pada 26 September 1987

Dan kini Dahlan Abubakar menjadi orang yang beruntung karena diizinkan menuliskan kisah hidup dan perjuangan pria yang dijuluki Macan Bola ini. Terlebih lagi dengan diluncurkannya ide pembuatan film ini.

"Nama Ramang tidak pernah mati. Buktinya, biar sosoknya sudah meninggal dunia, tetapi Ramang selalu disebut `sudah tua' (toa mi Ramang)," kata Lina sembari tertawa yang dikutip Dahlan Abubakar tanpa menyebut kapan waktu dimulainya pengambilan gambar film tersebut, seperti yang dikutip dari Antara.

(as/wikipedia/opnsrc)