Jumat, 03 Februari 2012

Siklon Tropis Iggy Berakhir, Musim Hujan Normal Kembali

Setelah Siklon Tropis Iggy lewat, Surabaya dan sekitarnya masih berpeluang diguyur hujan dengan intenstitas ringan hingga sedang, menjelang siang dan sore hari di atas pukul 13.00 WIB. Angin juga bertiup dari arah barat dengan kecepatan maksimum 35 km/jam.

Sementara untuk daerah Jawa Timur, beberapa wilayah telah diguyur hujan seperti Tuban bagian selatan, Bojonegoro bagian timur, wilayah Mojokerto bagian utara, Prigen,Pamekasan bagian timur, Sidoarjo ke arah Mojokerto, serta wilayah Sumenep.

Diprakirakan hujan akan turun merata di Jawa Timur dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun hujan terpantau deras di daerah utara Jatim seperti Tuban, Bojonegoro, dan Madura.

Dilaporkan Teguh Tri Susanto prakirawan Badan meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya pada suarasurabaya.net, Jumat (3/2/2012), penerbangan masih terbilang kondusif dan aman dengan jarak pandang di atas 7.000 meter.

Berdasarkan pantauan citra satelit pukul 09.00 WIB, beberapa rute penerbangan yang banyak kumpulan awan seperti, Laut Jawa, wilayah Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, dan memanjang ke Kepulauan Bangka Belitung. Serta wilayah Sulawesi Tenggara dan Laut Flores juga terpantau banyak kumpulan awan.

Kondisi hujan dan angin sudah terpantau normal kembali sejak siklon tropis Iggy berakhir. Keadaan cuaca saat ini sesuai prakiraan cuaca di musim hujan, yakni peralihan musim hujan akan terjadi di bulan Maret. Musim kemarau diprakirakan mulai pada bualn Juni atau Juli.

(SuaraSurabaya.net)

AirAsia Kerahkan 100 Pesawat Airbus untuk Layani Indonesia

Maskapai AirAsia siap meningkatkan layanan bagi pasar penerbangan Indonesia dengan mengoperasionalkan 100 persen armadanya dengan memakai Airbus pada kuartal I tahun 2012.

"Sampai saat ini, baru Malaysia dan Thailand yang telah mengoperasikan 100?persen Airbus," kata "CEO Group" AirAsia, Tan Sri Tony Fernandes, dalam siaran persnya menyambut Airbus A320 ke-100, di Surabaya, Jumat.

Ia optimistis, dengan mengoperasionalkan seluruh pesawatnya menjadi secara keseluruhan Airbus maka tingkat kenyamanan masyarakat penerbangan Indonesia menggunakan layanannya semakin tinggi.

"Apalagi, daya tampung penumpang di masing-masing armada jenis Airbus sangat besar sehingga dalam sekali perjalanan mampu menerbangkan ratusan penumpang," ujarnya.
Menyikapi kondisi tersebut, jelas dia, hal itu sangat berbeda dibandingkan 10 tahun lalu saat memulai kegiatan operasional dengan dua unit pesawat.

"Namun, kini dengan kedatangan Airbus A320 yang ke-100 membuat kami yakin menjadi maskapai penerbangan yang menggunakan pesawat tipe Airbus A320 terbanyak di wilayah Asia Tenggara," katanya. Ia menambahkan, pencapaian kinerjanya pada masa kini sekaligus pembuktian komitmen maskapainya untuk selalu berinvestasi dalam pengadaan pesawat baru.

(REPUBLIKA.CO.ID)

Penutupan Pintu Belakang Bandara Soetta Diprotes

Pengelola Bandara Soekarno-Hatta, PT Angkasa Pura II, tetap akan menutup akses pintu gerbang belakang M1 untuk dikembalikan sebagai kawasan publik terbatas atau restricted public area (RPA).

"Kami akan kembalikan sebagai RPA, namun tidak serta-merta ditutup begitu saja," kata Mulya Abdi, Deputi Senior Manajer Cabang PT Angkasa Pura II.

Angkasa Pura II beralasan akses pintu M1 kian semrawut dengan seluruh jenis kendaraan dan membuat tidak nyaman arus lalu-lintas di kawasan bandara. Selain itu, tentu juga ada alasan keselamatan penerbangan. Angkasa Pura II yang semula akan menutup akses berbarengan dengan Lebaran 2011 justru menggesernya sampai grand design terwujud.

Namun, rencana itu tidak didukung Pemerintah Kota Tangerang yang meminta Angkasa Pura 2 memberikan jalan alternatif bagi warga Kota Tangerang.

"Sampai kapan pun saya tidak mengizinkan untuk ditutup. Kasihan warga saya. Kalau mau, buatkan dulu jalan alternatifnya, baru silakan ditutup," kata Wali Kota Wahidin Halim, Kamis, 2 Februari 2012 saat  ditemui wartawan di Kecamatan Pinang.

Wahidin mengatakan rencana penutupan pintu M1 itu sudah lama dibicarakan antara Pemkot dan AP II, namun hingga saat ini belum ada titik temu.

Kepada Tempo, Wahidin menilai Angkasa Pura II tidak konsisten. "Tahun 2007 ada kesepakatan untuk ditutup sebagai kawasan publik terbatas, tapi dibuka lagi dengan syarat bagi pengendara berstiker," kata Wahidin.

Namun, kata Wahidin, program stiker ini tidak mulus. "Toh, dijualin (stikernya)." Lalu ada kesepakatan pintu M1 ditutup dan Pemerintah Kota Tangerang menyediakan jalan lingkar sebagai alternatif melalui Kecamatan Benda.

"Kami sudah bangun jalan lingkar itu dengan pelebaran Jalan Garuda, namun AP II tidak berpartisipasi. Bandara juga tidak terlibat. Ada tanah kosong mereka tidak mau membebaskan."


(TEMPO.CO)