Senin, 12 Agustus 2013

Raih Orgasme Berulang berkat Meditasi Orgasmik

Sentuh si dia di bagian-bagian ini agar makin bergairah.

Orgasme merupakan sensasi yang dinanti tapi kerap sulit dicapai oleh banyak wanita. Namun seorang wanita mengaku, dirinya dapat merasakan 11 kali orgasme dalam satu hari dengan melakukan meditasi orgasmik atau metode "om".

Adalah aktris Karean Lorre yang mengakui tubuhnya lebih sensitif dan menghargai pria sehingga ia dapat merasakan orgasme berulang. Ia mendapatkan semua itu dengan melakukan meditasi orgasmik yang diajarkan oleh seorang praktisi meditasi Nicole Daedone.

Lorre percaya, orgasme pada dasarnya merupakan hasil dari hubungan antara dua orang secara hormonal, emosional, dan spiritual sehingga pada awal mencoba metode tersebut, Lorre memfokuskan untuk meraih hubungan yang lebih baik dengan pasangannya daripada mencapai orgasme.

Diketahui, satu dari sepuluh wanita di dunia tidak mampu merasakan orgasme, tetapi Lorre bukanlah termasuk golongan tersebut. Ia melakukan meditasi orgasmik untuk menjadi lebih sensitif dan lebih menghargai pria.

"Saya sudah melakukan meditasi selama 20 tahun untuk mendapatkan kedamaian, namun meditasi orgasmik dapat memberikan rasa yang lebih sensitif, dan meningkatkan apresiasi saya kepada pria," ujar aktris yang berperan dalam serial X-Files ini.

Meditasi orgasmik merupakan latihan yang dilakukan selama 15 menit oleh dua orang. Latihan ini memfokuskan perhatian pada teknik yang digunakan dan sensasi yang diciptakan guna membuat wanita orgasme.

Seorang murid kelas meditasi, Rachel, mengatakan, saat umur 25 tahun dia pernah didiagnosis tidak akan pernah merasakan orgasme. Namun hal itu tidak terbukti setelah dia mengikuti kelas tersebut.

"Saya merasa ada saat getaran listrik itu datang dan saya pikir itulah rasanya menjadi wanita yang sesungguhnya, nyaman dan aman bersama pasangan kita," ujarnya.

Dr Pooja Lakshmin, peneliti di Rutgers University yang mempelajari orgasme, mengatakan, prinsip dari meditasi orgasmik sebenarnya adalah mengaktifkan area tertentu pada otak yang sama saat terjadinya orgasme.

"Meskipun pemikiran orang tentang orgasme wanita masih terbatas dan mekanisme apa yang mereka rasakan saat mencapai klimaks masih belum diketahui," tuturnya.

Mengapa Kurang Tidur Bikin Orang Mudah Marah?


Kurang tidur dan kelelahan bisa mengubah "kepribadian" seseorang menjadi mudah marah dan lebih menyebalkan. Sebenarnya mengapa hal tersebut terjadi?

Dalam Journal of Applied Social Psychology, para peneliti menjelaskan bahwa kurang tidur akan menyebabkan kontrol diri dan kemampuan berpikir jernih berkurang. Selain itu, kurang tidur juga akan mengurangi kemampuan tubuh menghadapi stres.

Makin sedikit waktu istirahat, makin sulit bagi Anda untuk menilai mana yang benar dan salah. Tak heran jika orang yang sering kurang tidur menjadi lebih rentan depresi.

Saat kurang tidur, proses berpikir, mengingat, dan belajar menjadi terganggu. Hal ini akan menyebabkan suasana hati seseorang menjadi kacau sehingga perilaku yang muncul jadi mudah tersinggung. Mereka juga menjadi sulit membuat keputusan.

"Saat tidur, tubuh sebenarnya sedang menabung energi. Pada level sel, terjadi proses perbaikan. Jika proses itu terganggu, kita tidak dapat melakukan hal yang kita inginkan, baik secara fisik maupun mental," kata Barry Krakow, pakar tidur.

Menurut Direktur Medis Sleep Medicine Center Martha Jefferson Hospital Christopher Winter, penelitian  menunjukkan adanya peningkatan aktivitas amigdala saat waktu tidur berkurang. Amigdala adalah bagian otak yang mengatur emosi, seperti rasa marah.

"Cara otak berkomunikasi dengan amigdala setelah kurang tidur dalam jangka panjang bukan hanya mendorong munculnya emosi negatif, tapi juga membuat kita tak mampu mengendalikan perasaan buruk," kata Winter.

Pada anak-anak, kurang tidur juga akan mengganggu kontrol mereka terhadap emosi dan sifat impulsif. Anak-anak yang kelelahan dan kurang tidur pada umumnya lebih sering mengamuk (tantrum) dibandingkan dengan anak yang cukup tidur.

Benarkah Kurang Tidur Memicu Kegemukan?


Berat badan berlebih ternyata bukan hanya perkara kelebihan makan dan kurang berolahraga saja. Semakin banyak bukti-bukti penelitian yang mengungkap kaitan antara kurang tidur dan kegemukan.

Peningkatan jumlah orang yang obesitas di Amerika Serikat (36 persen pada dewasa dan 18 persen pada anak), ternyata mengikuti semakin turunnya durasi tidur orang-orang kebanyakan. Pola ini juga tampak di beberapa negara industri.

Sebuah penelitian dilakukan untuk melihat aktivitas otak di area yang bertanggung jawab untuk mengontrol nafsu makan. Penelitian dilakukan pada orang-orang yang waktu tidurnya kurang.

Penelitian dilakukan oleh tim dari Universitas California, Berkeley, AS, dengan melibatkan 23 responden dewasa. Pertama, semua responden tidur normal selama 8 jam di laboratorium tidur. Di pagi hari otak responden dipindai dengan MRI ketika mereka melihat foto 80 jenis makanan.

Jenis makanan berkisar mulai dari rendah hingga tinggi kalori. Tiap item diberi nilai 1-4, sesuai keinginan responden terhadap makanan itu.

Bagian otak yang dipindai adalah beberapa area spesifik yang berkaitan dengan nafsu makan, selera, dan kepuasan makanan.

Tujuh hari kemudian, responden kembali ke laboratorium tidur dan mengulangi aktivitas tersebut. Bedanya, kali ini responden tidak boleh tertidur.

Hasilnya, kurang tidur mengganggu pilihan makanan dengan dua cara. Pertama dengan menghalangi aktivitas di area otak yang bertanggung jawab pada pilihan makanan sehingga responden tidak bisa memberi peringkat makanan mana yang betul-betul diinginkan.

Di waktu bersamaan, peningkatan aktivitas otak terjadi pada area amygdala. Area ini mengontrol ketertarikan pada makanan. Dengan kata lain, beberapa makanan tampak sangat menonjol dan menarik. Ketika dicek, ternyata jenis makanan tersebut kebanyakan yang tinggi kalori.

Dari hasil tersebut, para peneliti menyimpulkan kurang tidur mengganggu kemampuan membuat keputusan, serta meningkatkan keinginan makan makanan tidak sehat.

Meski penelitian tersebut berskala kecil, tetapi studi ini dapat dikembangkan untuk mengetahui lebih dalam kaitan antara kurang tidur dan peningkatan berat badan.