Senin, 05 Agustus 2013

11 Makanan Pembunuh Kecerdasan


Waspadai kadar garam dalam makanan cepat saji.

Makanan layaknya 2 sisi mata uang. Satu sisi akan meningkatkan kemampuan kognitif otak, sedangkan sisi lain berefek sebaliknya.

Berikut adalah 11 jenis makanan yang dapat membunuh kecerdasan. Konsumsi makanan ini secara terus-menerus dan berlebihan akan menurunkan ketajaman otak, perlahan namun pasti.

1. Makanan berkadar gula tinggi

Gula dan produk makanan bergula tidak hanya buruk untuk ukuran tubuh. Konsumsi hidangan ini dalam jangka panjang akan menimbulkan masalah saraf. Produk ini juga akan mengganggu kemampun ingatan. Karena itu, disarankan untuk menghindari kue yang belum dimasak sempurna, gula, sirup jagung, dan berbagai hidangan yang tinggi fruktosa.

2. Alkohol

Selain mengganggu fungsi liver, konsumsi alkohol akan menimbulkan kabut otak. Kabut otak adalah istilah untuk kebingungan, sehingga seseorang tidak mampu berfikir jelas. Tingginya asupan alkohol akan mengganggu keseimbangan otak. Akibatnya seseorang tidak mampu mengingat nama, peristiwa, dan membedakan ilusi atau kenyataan. Bila hal ini terjadi, sebaiknya segera batasi konsumsi alkohol 1 atau 2 gelas per minggu.

3. Junk food

Studi yang dilakukan University of Montreal Kanada menemukan, junk food dengan kandungan lemak berlebih dapat mengubah susunan kimia otak. Akibatnya, penggemar junk food merasa gelisah dan depresi. Junk food akan membuat konsumen cenderung menunjukkan gejala kemunduran (withdrawal) ketika berhenti mengkonsumsinya.

Konsumsi junk food mempengaruhi produksi dopamin. Dopamin adalah unsur kimia yang mempengaruhi kebahagiaan dan perasaan baik. Dopamin juga mempengaruhi fungsi kognitif, seperti kemampuan belajar, daya tangkap, motivasi, dan memori. Karena itu, penting menghindari semua makanan yang mengandung lemak berlebih.

4. Makanan yang digoreng

Hampir semua makanaan yang diolah (processed food)  mengandung unsur kimia, pewarna, penambah rasa, dan zat pengawet. Zat tambahan ini menimbukan risiko  hiperaktif, baik pada usia dewasa maupun anak. Makanan yang digoreng atau diproses, perlahan merusak sistem saraf di otak. Beberapa minyak diduga lebih berbahaya dibanding lainnya, contohnya minyak bunga matahari.

5. Makanan olahan atau pre cooked (setengah masak)

Seperti halnya makanan yang digoreng,makanan olahan akan mempengaruhi sistem saraf pusat. Makanan ini juga meningkatkan risiko penurunan fungsi otak, contohnya penyakit alzheimer di kemudian hari.

6. Makanan yang sangat asin

Konsumsi makanan asin dikenal sebagai faktor risiko hipertensi. Konsumsi  makanan yang kelewat banyak kandungan sodium/natriumnya bahkan mirip seperi nikotin dan narkoba, yakni dapat menyebabkan konsumennya tak berhenti makan dan ketagihan.   Padahal, efeknya bisa menurunkan kemampuan berpikir dan fungsi kognitif.

7. Grains (padi-padian/serealia), kecuali whole grains

Seluruh jenis padi-padian atau serealia merupakan sumber karbohidrat yang dapat mempengaruhi fungsi otak dan kondisi kesehatan secara umum. Namun dari banyak produk grains, jenis whole grains atau 100 persen biji utuh adalah jenis yang paling dianjurkan karena sangat kaya serat dan dapat mencegah penuaan pembuluh darah.

Umumnya yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat adalah bukan biji padi/serealia utuh melainkan salah satu dari bagiannya. Misalnya, tepung terigu yang merupakan bahan baku roti atau kue merupakan bagian endosperm (lembaga) dari biji gandum yang digiling dan diayak. Demikian pula dengan nasi yang dikonsumsi berasal dari endosperm padi.

Bila Anda sering mengonsumsi biji padi/serealia yang tidak 100 persen utuh, tubuh akan menua lebih cepat yang disusul hilangnya memori dan kabut otak. Karena itu, secara perlahan ganti menu sarapan menjadi 100 persen produk whole grains atau dengan sumber karbohidrat kompleks.

8. Sumber protein yang diolah

Protein dikenal sebagai pembangun otot dan penting untuk membantu tubuh bekerja dengan baik. Protein juga membantu tubuh menyekat sistem saraf. Namun hal ini tidak terjadi jika mengkonsumsi sumber protein olahan, seperti daging yang terlalu lama dimasak, hot dog, salami, atau sosis. Sebaiknya, pilih ikan segar terutama untuk tuna dan salmon, susu, dan kacang-kacangan untuk sumber protein yang lebih baik.

9. Lemak trans

Lemak trans dikenal sebagai salah satu faktor pemicu penyakit jantung, karena menyebabkan obesitas dan kenaikan kadar kolesterol jahat. Konsumsi lemak trans juga akan membuat otak lebih lamban yang mempengaruhi refleks dan kualitas otak.

Bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama, lemak trans akan menyebabkan penyusutan otak. Hal ini perlahan juga membahayakan pembuluh arteri jantung. Oleh karena itu, segera batasi konsumsi makanan tinggi lemak trans, seperti  gorengan, donat, pastry, pie, biskuit, kue, cracker, margarine.

10. Pemanis buatan

Pemanis buatan memang mengandung kalori lebih sedikit. Namun bila penggunaannya sering dan dalam jumlah banyak, akan meningkatkan risiko gangguan fungsi otak dan kemampuan kognitif.

11. Nikotin

Walaupun faktanya nikotin bukan merupakan jenis makanan, tetapi zat yang satu ini sudah terkenal dapat merusak otak dengan cara menghambat aliran darah menuju organ penting ini, sehingga membatasi suplai oksigen dan glukosa . Zat ini bukan cuma menyebabkan penuaan dini dan memicu kanker dan merusak pernafasan, tetapi juga  mempengaruhi produksi dan fungsi neurotransmitter dengan membuat sempit lubang saluran kapiler. Padahal, saluran darah berukuran kecil ini berperan penting dalam fungsi otak.

Minggu, 04 Agustus 2013

4 Mitos dan Fakta Seputar Konsumsi Telur


Hindari menyimpan telur di lemari es yang sering dibuka-tutup

Telur adalah sumber protein hewani penting yang relatif mudah didapat dan murah. Kandungan protein, lemak, dan mineral yang terkandung di dalam telur dapat mencukupi kebutuhan berbagai nutrisi penting.

Kandungan lemak dan kolesterolnya yang tinggi membuat sebagian orang ragu mengonsumsi telur karena khawatir akan menimbulkan risiko berbagai penyakit degeneratif. Alhasil, beredar beberapa mitos negatif mengenai konsumsi telur. Misalnya mitos konsumsi yang rutin menimbulkan faktor risiko kegemukan dan penyakit degeneratif. Namun, benarkah hal tersebut bisa terjadi?

Berikut ini adalah mitos dan fakta seputar konsumsi telur.

1. Mitos: telur bikin gendut. Fakta: telur baik untuk penurunan berat badan

Mungkin Anda pernah mendengar kalau telur mengandung 60 persen kalori yang berasal dari lemak. Namun, konsumsi telur sebenarnya tidak akan membuat gemuk. Pasalnya telur merupakan makanan yang dapat digunakan untuk penurunan berat badan. Satu butir telur hanya mengandung 70 kalori, yang seimbang dengan 6 gram protein dam 5 gram lemak.

Kombinasi protein dan lemak dapat meningkatkan produksi "hormon kenyang". Protein dalam telur juga menyebabkan tubuh melepaskan glukagon, yang merangsang tubuh melepas dan menggunakan cadangan karbohidrat dan lemak.

2. Mitos: telur meningkatkan kolesterol. Fakta: telur tidak memengaruhi kadar kolesterol

Masalah ini sempat menimbulkan perdebatan karena telur dapat mengandung hingga maksimal 200 miligram kolesterol pada satu kali penyajian. Asupan kolesterol yang berlebih dikhawatirkan mengganggu kesehatan jantung.

Tetapi faktanya, konsumsi makanan berkolesterol tidak serta merta akan meningkatkan kadar kolesterol setinggi yang dibayangkan. Menurut penelitian, hanya sekitar 30 persen saja orang akan mengalami kenaikan kadar kolesterol setelah mengonsumsi makanan berkolesterol.

Hal ini juga didukung penelitian para ahli dari Harvard terhadap 100 ribu responden. Riset membuktikan, konsumsi telur tidak meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Bahkan riset  dari University of Connecticut menemukan, makan 3 telur per hari menjadi bagian dari upaya membatasi asupan karbohidrat dan meningkatkan asupan kolesterol baik (HDL) dalam tubuh.

3. Mitos: cuma boleh makan putih telur. Fakta: nikmati putih dan kuning telur

Putih telur hanya mengandung 3,5 gram protein. Nutrisi lain seperti protein dan lemak, ada di dalam kuning telur sehingga kuning telur menjadi bagian yang paling bernutrisi. Kuning telur mengandung 240 miligram leucine, asam amino berantai tunggal yang memengaruhi genetik pembangun otot.

Kuning telur juga mengandung kolin, yang berguna untuk fungsi membran sel. Selain itu, masih ada kolesterol, yang merupakan penyusun berbagai hormon, vitamin A, vitamin D, dan vitamin E. Kuning telur juga kaya omega 3, apalagi jika ayamnya diberi makanan yang mengandung asam amino serupa. Telur akan menghasilkan 150 miligram omega 3 yang kaya DHA.

4. Mitos: telur mentah beri lebih banyak nutrisi, Fakta: Telur yang dimasak memberi akses pada lebih banyak nutrisi

Makan telur mentah diyakini memberi manfaat lebih karena bentuk kolesterolnya masih belum teroksidasi. Nyatanya, oksidasi kolesterol telur sealma proses memasak sebenarnya minimal, dan akan jauh berkurang jika dimasak pada suhu rendah.

Makan telur mentah juga dipercaya dapat membantu  mencegah hormon lutein dan zeaxanthin yang penting bagi kesehatan. Namun, penelitian yang dimuat American Journal of Clinical Nutrition dan Journal of Nutritionmenunjukkan bahwa makan telur yang dimasak juga dapat meningkatkan kadar lutein dan zeaxanthin dalam darah.

Selain itu, telur mentah mengadung avidin. Protein ini dapat mengikat dan mencegah penyerapan nutrisi penting dalam tubuh, misalnya biotin. Memasak telur akan menonaktifkan avidin, dan memastikan nutrisi terserap sempurna.

Walapun hanya 1 dari 10 ribu telur terkontaminasi salmonella, proses memasak dapat mematikan segala kuman yang mungkin saja ada di dalam telur. Dengan proses pemasakan,  telur tentu akan lebih sehat dan aman dikonsumsi.

Sumber : LiveStrong

Benarkah Orang yang Bangun Siang Lebih Pintar dan Sukses?


Nasihat kuno mengajarkan pentingnya bangun pagi jika ingin sukses dan kaya. Bangun kesiangan bisa membuat rezeki hilang karena sudah diambil orang. Namun, nasihat itu bertentangan dengan penelitian terbaru yang menunjukkan orang yang bangun siang justru sukses dalam pekerjaan.

Bangun siang pada umumnya disebabkan seseorang tidur terlalu larut sehingga sulit untuk bangun pagi hari. Nah, menurut penelitian, orang-orang tersebut pada umumnya memiliki kecerdasan lebih tinggi, terutama dalam hal konseptual dan penalaran.

Meski di sekolah anak-anak yang rajin bangun pagi lebih berprestasi dibandingkan dengan anak yang sering bangun siang, saat sudah masuk dunia kerja, anak yang sering bangun siang lebih unggul.

Hasil yang didapatkan dari penelitian Universitas Madrid ini dilakukan dengan mengikutkan 1.000 remaja.

Hal serupa diperoleh pada riset yang dilakukan Universitas Southampton. Orang yang bangun siang meraih pendapatan yang lebih besar dengan kemapanan hidup lebih baik. Misalnya, rumah lebih nyaman, mobil, dan pekerjaan yang lebih ringan.

Studi yang dilakukan US Air Force juga menunjukkan, orang yang terbiasa bangun telat lebih hebat dalam kreativitas. Meski demikian, tes untuk mengetahui hal itu dilakukan pada pagi hari.

Menanggapi hal ini, profesor psikofisiologi dari Universitas Loughborough, Jim Horne, mengatakan, "Tipe yang suka melek malam cenderung lebih ekstrover dan kreatif, seperti pada artis dan penemu. Sementara tipe yang bangun lebih pagi cenderung rajin, seperti pegawai pemerintah dan akuntan."

Terdapat perbedaan yang sangat jelas dari dua tipe pribadi ini. Tipe malam lebih suka berhubungan sosial dan beriorientasi pada orang lain.

Sementara riset yang dimuat dalam jurnal Emotion menunjukkan, orang yang bangun pagi lebih bahagia. Jam biologi mereka lebih selaras dengan orang kebanyakan.

Beberapa orang sukses yang memiliki kegemaran bangun pagi adalah George W Bush, Thomas Edison, dan Ernnest Hemingway. Orang yang bangun pagi memiliki sisi kecerdasan dalam menyimpulkan, analisis, dan mengonsep.